INSTRUKSIONAL
Oleh: Syaiful Rahman, SE*
A. PENDAHULUAN
Bidang pendidikan berurusan dengan komunikasi antar manusia (sosial), yang satu sama lain dapat saling menyampaikan pesan, maksud dan tujuan menurut caranya masing-masing.Alat penghantar pesan itu dapat bermacam-macam, dari mulai bahasa, lambang, gambar, gerakan-gerakan, dan sikap, sampai kepada alat-alat bantu pengajaran yang modern; dari yangh sederhana dan hanya memerlukan sedikit keterampilan, sampai kepada yang rumit dan memerlukan berbagai latihan serta kecakapan khusus untuk dapat menggunakannya.[1]
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.[2] Selain sebagai alat bantu, media juga merupakan sumber belajar. Hal ini tidak terlepas dari pengelompokkan-pengelompokkan terhadap sumber-sumber belajar yang terdiri dari lima kategori; manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.[3]
B. DEFINISI MEDIA
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.[4] Pada tahun 1970-an, Robert M. Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.[5] Sementara Leslie J. Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti misalnya buku, film bingkai, kaset dan lain-lainnya.[6] Adapun Association of Education and Communication Technology (AECT) di Amerika memberikan batasan mengenai media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi.[7] Pada perkembangan selanjutnya, Gagne dan Briggs memberikan batasan mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa. Hal tersebut dapat berupa perangkat keras seperti misalnya: komputer, televisi, proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat-perangkat keras tersebut.[8] Dengan menggunakan batasan ini, maka guru dan perilakunya juga merupakan media pembelajaran.[9]
Namun kemudian perlu diperhatikan pula posisi antara media sebagai sumber belajar dengan media sebagai alat bantu. Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Sebaliknya, media sebagai alat bantu mempunyai arti yang sangat penting. Karena dalam kegiatan belajar mengajar, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama.
Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan media disini adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.
C. MACAM-MACAM MEDIA
Pada dasarnya media instruksional dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Media yang dimanfaatkan atau “media by ultization” artinya media yang biasanya dibuat secara komersial dan terdapat di pasaran bebas, kita tinggal memilih dan memanfaatkan. Misalnya radio, tape recorder, televisi, overhead proyector dan sebagainya.
2. Media yang dirancang atau “media by design” yaitu media yang harus dipersiapkan dan dikembangkan sendiri. Misalnya chart, bagan, gambar-gambar dan sebagainya.[10]
Kemudian jika dilihat dari jenisnya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.
2. Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.
3. Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Media ini dibagi lagi menjadi: a) audiovisual diam dan b) audio visual gerak. Pembagian laindari media ini adalah : a) audiovisual murni yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette.
Audiovisual tidak murni, yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda. Misalnya film bingkai yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyector dan suaranya bersumber dari tape recorder.
Jika dilihat dari daya liputnya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi :
1. Media dengan daya liput luas dan serentak, misalnya radio dan televisi.
2. Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat, seperti film, sound slide, dan film rangkai.
3. Media untuk pengajaran individual, seperti modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
Kemudian jika dilihat dari bahan pembuatannya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi :
1. Media sederhana, yaitu media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya dan penggunaannya juga tidak sulit.
2. Media kompleks yaitu media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.
D. KRITERIA PEMILIHAN MEDIA INSTRUKSIONAL
Mengingat banyaknya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, beraneka ragam karakteristik siswa, keadaan lingkungan, kondisi, budaya dan norma-norma masyarakat yang berlaku serta biaya, maka jenis media juga harus dipilih dan disesuaikan dengan latar perbedaan tersebut.
Ada 4 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media untuk suatu pembelajaran, disamping kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan media. Keempat faktor tersebut :
1. Ketersediaan sumber dana.
2. Tenaga dan fasilitas.
3. Kepraktisan dan ketahanan media yang akan digunakan.
4. Efektifitas biayanya dalam waktu yang panjang.
Sedangkan J.P. Essef dan Mary S. Essef menyebutkan lima kriteria yang harus dipertimbangkan :
1. Tingkat kecermatan representasi pesan.
2. Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh media.
3. Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki media.
4. Tingkat motivasi yang ditimbulkan oleh media.
5. Tingkat biaya yang diperlukan dalam mengoperasionalkan media.[11]
Soetomo memberikan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain :
1. Harus ada kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media tersebut. Aspek tujuan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai jenis media yang telah diuraikan sebelumnya.
2. Adanya familiaritas dari media itu sendiri. Dalam hal ini kita harus mengenal sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih.
3. Adanya sejumlah media yang dapat diperbandingkan.[12]
Sementara Harjanto mengingatkan tiga faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media :
1. Faktor siswa, yang berkenaan dengan siapa yang belajar baik kuantitatif maupun kualitatif, yang pada gilirannya media apa yang akan dipilih.
2. Faktor isi pengajaran, yang berkenaan dengan materi oelajaran sesuai dengan mata ajaran dan topik-topik yang diajarkan.
3. Tujuan yang hendak dicapai, dalam arti jenis tujuan, apakah tingkah laku terminal/final, apakah vokasional/non vokasional, apakah harus misteri atau individual. Untuk mencapai tujuan tersebut selanjutnya informasi apa yang seharusnya disampaikan dan jenis media apa yang sewajarnya digunakan.[13]
E. FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA INSTRUKSIONAL
Ada empat fungsi media pengajaran, khususnya media visual yang dikemukakan oleh W. Howard Levie :
1. Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2. Fungsi afektif , dimana media dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
3. Fungsi kognitif, yaitu media dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam media.
4. Fungsi kompensatoris, yaitu media memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.[14]
Sementara Kemp dan Dayton berpendapat bahwa media pengajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama :
1. Memotivasi minat atau tindakan.
2. Menyajikan informasi.
3. Memberi instruksi.[15]
Kemudian secara umum, media mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
4. Dapat mengatasi perbedaan lingkungan dan pengalaman antara siswa dan guru, sementara kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. Dalam hal ini media dapat mengatasi problem tersebut, yaitu dengan kemampuan media dalam :
a. Memberikan perangsang yang sama.
b. Mempersamakan pengalaman.
c. Menimbulkan persepsi yang sama.[16]
Sebagai bagian dari sistem instruksional, media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan untuk :
1. Membuat konkrit dari konsep-konsep yang masih abstrak.
2. Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
3. Menampilkan obyek yang terlalu besar.
4. Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
5. Dapat memperlihatkan gerakan-gerakan yang terlalu cepat.
6. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan.
7. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8. Membangkitkan motivasi belajar siswa.
9. Memberikan kesan perhatian individu untukseluruh anggota kelompok belajar siswa dalam kelas.
10. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
11. Menyajikan pesan dan informasi secara serempak mengatasi waktu dan ruang.
12. Mengontrol arah atau kecepatan belajar siswa.[17]
F. KESIMPULAN
Dari uraian singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan media instruksional dalam proses belajar mengajar bisa menempati dua posisi:
Pertama, media instruksional diposisikan sebagai alat bantu yang diharapkan mampu meningkatkan efektifitas dan keberhasilan belajar mengajar.
Kedua, media instruksional juga bisa diposisikan sebagai sumber belajar. Hal ini berkenaan dengan cakupan media yang cukup luas serta pesan-pesan yang ditampilkan dalam media yang memberikan informasi tentang materi pelajaran yang akan diterima oleh siswa.
Selain itu, melihat fungsi dan kegunaan-kegunaan dari media instruksional, maka bukanlah hal yang berlebihan jika kemudian muncul anggapan bahwa eksistensi media instruksional menjadi sangat urgen dalam proses belajar mengajar. Oleh karenanya, menafikan media sama artinya dengan mempersulit proses belajar mengajar itu sendiri.
* Guru/Waka MA. Miftahul Ulum Sumberjati-Pamekasan.
[1] Zakiah Daradjat, dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 117-118.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 137.
[3] Udin Saripudin Winataputra dan Rustana Ardiwinata, Materi Pokok Perencanaan Pengajaran Modul 1-6 (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam dan Universitas Terbuka, 1991), 199.
[4] Djamarah, Strategi, 136. Lihat juga Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 197.
[5] Robert M. Gagne, The Conditioning of Learning (New York: Renehart and Winston, 1977), 45.
[6] Leslie J. Briggs, Instructional Design: Principles and Application (New York: Educational Technology Publications, 1977), 29.
[7] AECT, The Definition of Education Technology (Washington: AECT, 1977), 114.
[8] Robert M. Gagne dan Leslie J. Briggs, Principles of Instructional Design (New York: Halt Rinehart and Winston, 1979), 77.
[9] Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media Karya Anak Bangsa, 1996), 91.
[10] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 205.
[11] J.P. Essef dan Mary S. Essef, Selecting Media and Materials (New Jersey: Prentice Hall, 1980), 68.
[12] Soetomo, Dasar-dasar, 204.
[13] Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 250-251.
[14] W. Howard Levie dan Diane Levie, Pictorial Memory Processes (New York: Halsted Press, 1975), 81-97.
[15] J.E. Kemp dan D.K. Dayton, Planning and Producing Instructional Media (New York: Harver & Row Publisher, 1985), 28.
[16] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan (Jakarta: Rajawali, 1993), 17.
[17] Soetomo, Dasar-dasar, 202-203.
Oleh: Syaiful Rahman, SE*
A. PENDAHULUAN
Bidang pendidikan berurusan dengan komunikasi antar manusia (sosial), yang satu sama lain dapat saling menyampaikan pesan, maksud dan tujuan menurut caranya masing-masing.Alat penghantar pesan itu dapat bermacam-macam, dari mulai bahasa, lambang, gambar, gerakan-gerakan, dan sikap, sampai kepada alat-alat bantu pengajaran yang modern; dari yangh sederhana dan hanya memerlukan sedikit keterampilan, sampai kepada yang rumit dan memerlukan berbagai latihan serta kecakapan khusus untuk dapat menggunakannya.[1]
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.[2] Selain sebagai alat bantu, media juga merupakan sumber belajar. Hal ini tidak terlepas dari pengelompokkan-pengelompokkan terhadap sumber-sumber belajar yang terdiri dari lima kategori; manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.[3]
B. DEFINISI MEDIA
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.[4] Pada tahun 1970-an, Robert M. Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.[5] Sementara Leslie J. Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti misalnya buku, film bingkai, kaset dan lain-lainnya.[6] Adapun Association of Education and Communication Technology (AECT) di Amerika memberikan batasan mengenai media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi.[7] Pada perkembangan selanjutnya, Gagne dan Briggs memberikan batasan mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa. Hal tersebut dapat berupa perangkat keras seperti misalnya: komputer, televisi, proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat-perangkat keras tersebut.[8] Dengan menggunakan batasan ini, maka guru dan perilakunya juga merupakan media pembelajaran.[9]
Namun kemudian perlu diperhatikan pula posisi antara media sebagai sumber belajar dengan media sebagai alat bantu. Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Sebaliknya, media sebagai alat bantu mempunyai arti yang sangat penting. Karena dalam kegiatan belajar mengajar, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama.
Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan media disini adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.
C. MACAM-MACAM MEDIA
Pada dasarnya media instruksional dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Media yang dimanfaatkan atau “media by ultization” artinya media yang biasanya dibuat secara komersial dan terdapat di pasaran bebas, kita tinggal memilih dan memanfaatkan. Misalnya radio, tape recorder, televisi, overhead proyector dan sebagainya.
2. Media yang dirancang atau “media by design” yaitu media yang harus dipersiapkan dan dikembangkan sendiri. Misalnya chart, bagan, gambar-gambar dan sebagainya.[10]
Kemudian jika dilihat dari jenisnya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.
2. Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.
3. Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Media ini dibagi lagi menjadi: a) audiovisual diam dan b) audio visual gerak. Pembagian laindari media ini adalah : a) audiovisual murni yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette.
Audiovisual tidak murni, yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda. Misalnya film bingkai yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyector dan suaranya bersumber dari tape recorder.
Jika dilihat dari daya liputnya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi :
1. Media dengan daya liput luas dan serentak, misalnya radio dan televisi.
2. Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat, seperti film, sound slide, dan film rangkai.
3. Media untuk pengajaran individual, seperti modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
Kemudian jika dilihat dari bahan pembuatannya, maka media instruksional dapat dibagi menjadi :
1. Media sederhana, yaitu media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya dan penggunaannya juga tidak sulit.
2. Media kompleks yaitu media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.
D. KRITERIA PEMILIHAN MEDIA INSTRUKSIONAL
Mengingat banyaknya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, beraneka ragam karakteristik siswa, keadaan lingkungan, kondisi, budaya dan norma-norma masyarakat yang berlaku serta biaya, maka jenis media juga harus dipilih dan disesuaikan dengan latar perbedaan tersebut.
Ada 4 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media untuk suatu pembelajaran, disamping kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan media. Keempat faktor tersebut :
1. Ketersediaan sumber dana.
2. Tenaga dan fasilitas.
3. Kepraktisan dan ketahanan media yang akan digunakan.
4. Efektifitas biayanya dalam waktu yang panjang.
Sedangkan J.P. Essef dan Mary S. Essef menyebutkan lima kriteria yang harus dipertimbangkan :
1. Tingkat kecermatan representasi pesan.
2. Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh media.
3. Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki media.
4. Tingkat motivasi yang ditimbulkan oleh media.
5. Tingkat biaya yang diperlukan dalam mengoperasionalkan media.[11]
Soetomo memberikan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain :
1. Harus ada kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media tersebut. Aspek tujuan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai jenis media yang telah diuraikan sebelumnya.
2. Adanya familiaritas dari media itu sendiri. Dalam hal ini kita harus mengenal sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih.
3. Adanya sejumlah media yang dapat diperbandingkan.[12]
Sementara Harjanto mengingatkan tiga faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media :
1. Faktor siswa, yang berkenaan dengan siapa yang belajar baik kuantitatif maupun kualitatif, yang pada gilirannya media apa yang akan dipilih.
2. Faktor isi pengajaran, yang berkenaan dengan materi oelajaran sesuai dengan mata ajaran dan topik-topik yang diajarkan.
3. Tujuan yang hendak dicapai, dalam arti jenis tujuan, apakah tingkah laku terminal/final, apakah vokasional/non vokasional, apakah harus misteri atau individual. Untuk mencapai tujuan tersebut selanjutnya informasi apa yang seharusnya disampaikan dan jenis media apa yang sewajarnya digunakan.[13]
E. FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA INSTRUKSIONAL
Ada empat fungsi media pengajaran, khususnya media visual yang dikemukakan oleh W. Howard Levie :
1. Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2. Fungsi afektif , dimana media dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
3. Fungsi kognitif, yaitu media dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam media.
4. Fungsi kompensatoris, yaitu media memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.[14]
Sementara Kemp dan Dayton berpendapat bahwa media pengajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama :
1. Memotivasi minat atau tindakan.
2. Menyajikan informasi.
3. Memberi instruksi.[15]
Kemudian secara umum, media mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
4. Dapat mengatasi perbedaan lingkungan dan pengalaman antara siswa dan guru, sementara kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. Dalam hal ini media dapat mengatasi problem tersebut, yaitu dengan kemampuan media dalam :
a. Memberikan perangsang yang sama.
b. Mempersamakan pengalaman.
c. Menimbulkan persepsi yang sama.[16]
Sebagai bagian dari sistem instruksional, media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan untuk :
1. Membuat konkrit dari konsep-konsep yang masih abstrak.
2. Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
3. Menampilkan obyek yang terlalu besar.
4. Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
5. Dapat memperlihatkan gerakan-gerakan yang terlalu cepat.
6. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan.
7. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8. Membangkitkan motivasi belajar siswa.
9. Memberikan kesan perhatian individu untukseluruh anggota kelompok belajar siswa dalam kelas.
10. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
11. Menyajikan pesan dan informasi secara serempak mengatasi waktu dan ruang.
12. Mengontrol arah atau kecepatan belajar siswa.[17]
F. KESIMPULAN
Dari uraian singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan media instruksional dalam proses belajar mengajar bisa menempati dua posisi:
Pertama, media instruksional diposisikan sebagai alat bantu yang diharapkan mampu meningkatkan efektifitas dan keberhasilan belajar mengajar.
Kedua, media instruksional juga bisa diposisikan sebagai sumber belajar. Hal ini berkenaan dengan cakupan media yang cukup luas serta pesan-pesan yang ditampilkan dalam media yang memberikan informasi tentang materi pelajaran yang akan diterima oleh siswa.
Selain itu, melihat fungsi dan kegunaan-kegunaan dari media instruksional, maka bukanlah hal yang berlebihan jika kemudian muncul anggapan bahwa eksistensi media instruksional menjadi sangat urgen dalam proses belajar mengajar. Oleh karenanya, menafikan media sama artinya dengan mempersulit proses belajar mengajar itu sendiri.
* Guru/Waka MA. Miftahul Ulum Sumberjati-Pamekasan.
[1] Zakiah Daradjat, dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 117-118.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 137.
[3] Udin Saripudin Winataputra dan Rustana Ardiwinata, Materi Pokok Perencanaan Pengajaran Modul 1-6 (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam dan Universitas Terbuka, 1991), 199.
[4] Djamarah, Strategi, 136. Lihat juga Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 197.
[5] Robert M. Gagne, The Conditioning of Learning (New York: Renehart and Winston, 1977), 45.
[6] Leslie J. Briggs, Instructional Design: Principles and Application (New York: Educational Technology Publications, 1977), 29.
[7] AECT, The Definition of Education Technology (Washington: AECT, 1977), 114.
[8] Robert M. Gagne dan Leslie J. Briggs, Principles of Instructional Design (New York: Halt Rinehart and Winston, 1979), 77.
[9] Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media Karya Anak Bangsa, 1996), 91.
[10] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 205.
[11] J.P. Essef dan Mary S. Essef, Selecting Media and Materials (New Jersey: Prentice Hall, 1980), 68.
[12] Soetomo, Dasar-dasar, 204.
[13] Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 250-251.
[14] W. Howard Levie dan Diane Levie, Pictorial Memory Processes (New York: Halsted Press, 1975), 81-97.
[15] J.E. Kemp dan D.K. Dayton, Planning and Producing Instructional Media (New York: Harver & Row Publisher, 1985), 28.
[16] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan (Jakarta: Rajawali, 1993), 17.
[17] Soetomo, Dasar-dasar, 202-203.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar